Kamis, 17 Februari 2011

ANALISIS CERPEN "SUAP" PUTU WIJAYA



ANALISIS CERPEN
UNSUR INTRINSIK
Tema : Cinta tanah air
Alur : Alur campuran.
Pada paragraf pertama ada kalimat, “Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka..” yang membuktikan adanya alur mundur yang mengingatkan pembaca pada kejadian masa lampau. Dan pada dialog, “Berapa TKW yang sudah babak belur bahkan mati.” Itu juga mengingatkan kejadian yang telah terjadi sebelumnya.
Sedangkan kalimat, “Umpama seorang presiden dalam sebuah negara, Bapak tidak boleh cepat marah kepada negara tetangga, meskipun jelas negara itu sudah mengekspor kejahatan ke tempat kita. Karena kalau presiden marah, bisa terjadi perang.” Ini menunjukan orintasi ke depan atau hal yang akan terjadi di depan nantinya.
Demikianlah mengapa ada dua alur yang terjadi. Satu hal ada kalimat yang menceritakan kembali masa lampau dan satu hal lagi ada alur maju yang berorientasi ke depan.
Tokoh dan penokohan :
Ami : Bersifat egois dan keras kepala tidak mempedulikan lingkungan sekitar yang ternyata ada salah satu warga Negara Malaysia menjadi tetangganya, cinta tanah air, kurang bijaksana jika mengambil suatu keputusan.
Pak Amat : Bijaksana karena tidak seenaknya menyampaikan pendapatnya, sabar dalam menghadpai kelakuan Ami yang cenderung keras kepala, tidak gegabah dalam melakukan seseuatu karena perlu pemikiran.
Bu Amat : Tokoh Bu Amat juga termasuk tokoh yang mencerminkan cinta tanah air dengan terang-terangan memojokkan Malaysia dengan fakta-fakta yang telah membuatnya geram, bisa menengahi masalah tentang perdebatan antara Ami dan Pak Amat.
Latar/setting :
Tempat : Rumah Ami dan rumah teman Ami
Waktu : Latar waktu kurang jelas sejak awal dialog cerpen ini, hanya saja di pertengahan dialog dijelaskan waktu malam hari. Jadi disini yang bisa ditangkap setting malam hari saja.
Suasana : Suasana yang terjadi pada waktu itu adalah menegangkan karena terjadi perdebatan panas antara Ami dan Pak Amat yang mempersoalkan tentang Negara Malaysia yang mengklaim budaya Indonesia lalu Pak Amat dengan Bu Amat yang menyalahkan Pak Amat gara-gara Ami kabur dari rumah.
Sudut Pandang : Sudut pandang di sini memakai sudut pandang orang ketiga dengan nama orang lain yang serba tahu.
Gaya bahasa : Gaya bahasa yang digunakan santai tapi menimbulkan emosional pembaca.
Amanat : Sebagai warga Negara Indonesia sebaiknya menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia, agar Negara lain tidak bisa mengklaim seenakanya budaya Indonesia.
UNSUR EKSTRINSIK
Pengarang :
Cerpen pendet ini ditulis oleh seorang sastrawan yang bernama I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang akrab dipanggil Putu Wijaya lahir di Puri AnomTabananBali11 April 1944 yang peduli akan kebudayaan Indonesia yang dengan seenaknya diklaim Negara Malaysia. Kenapa tari pendet yang menjadi judul dan pokok permasalahan cerpen yang beliau tulis karena Putu Wijaya dan tari pendet sama-sama berasal dari Bali. Ini merupakan wujud keprihatinan atas nasib kebudayaan Indonesia yang sudah tidak diperhatikan oleh warga Negara Indonesia yang ada.
Kondisi zaman saat penulisan cerpen “Pendet” :
Cerpen ini dibuat oleh Putu Wijaya di blog-nya pada tanggal 24 Agustus 2009. Pada saat itu memang keadaan Indonesia sedang rancu dan dilanda dilema karena ada beberapa Negara tetangga yang mencoba mengakui sebagian kebudayaan Indonesia, seperti Reog Ponorogo, Angklung, lagu Rasa Sayange, Batik, Tari Pendet dan masih banyak kebudayaan asli Indonesia lainnya. Dan hal itu memunculkan ide sang sastrawan, Putu Wijaya untuk membuat hasil karya berupa cerpen untuk mewakili sebagian isi hati warga Negara Indonesia yang mungkin dibuat geram dengan keadaan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar